followers

Sabtu, 11 Disember 2010

PaBiLa SaSterA MemBonGKaR InsKripSi HaTi









Dingin kenyamanan malam begitu menyapa tubuhku. Sang Cengkerik di celah rerumput riang memelodikan gita gemersik. Gersang, gelap malam yang hanya bercahayakan terang bintang dan pantulan cahaya bulan. Sesekali terdengar pekikan Sang Kelawar dari lembah gelita. Awan hitam yang mengembara tanpa jemu di angkasa  terkadang menutupi Sang Rembulan yang memantulkan cahaya suria. Tika ini entah mengapa monolog-monolog nostalgia mula bercerita dalam ketenangan tasik minda. Ia muncul persis nuriah nova yang bersinar terang namun pudar samar beberapa ketika.





Tidak dapat ku nafikan hati telah dibaluti kawat rindu berduri. Lubuk jiwa telah dikontaminasi suasana dunia fana di sekitar permandangan indahnya. Rasa kasih kian kencang menerobos pagar sabar, terus berlegar-legar di koridor kalbu. Mengapa semua ini harus berlaku padaku? Adakah kerana angin bertiup syahdu membisik sanubari agar merindu pada bingkisan kabaran nakhoda cinta yang masih tersadai di samudera rasa? Ataukah mungkin hanya lintasan ilustrasi imaginasi bayangan ilusi semata? Sedangkan epidermis sukma juga tidak mampu menangkis hadirnya arca rasa melintas gerbang jiwa.






  Lalu.... inspirasi menggerak hati mengaspirasikan penulisan puisi berasosiasi asmaraloka dengan realiti nyata manusia. Kerana aku memang tidak bisa melenyap segenap perasaan yang meresap jauh ke teras nubari dan terus membiar ia bergantung harap. Justeru hadir inskripsi hati bagi  membongkar dalam bentuk Puisi. Puisi bukanlah propaganda yang memujuk minda agar ternoda kepada madah. Puisi juga bukanlah untuk dideklamasi Protagonis Puitis kepura-puraan di pentas drama. Puisi merupakan satu konklusi luahan ukiran hati insani yang di ungkap keluar dari tingkap ketulusan sanubari~.




Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...